a. Arti Ucapan
Bahasa Indonesia bagi sebagian besar
penuturnya adalah bahasa kedua.
Para penutur yang berbahasa
Indonesia, bahasa Indonesia mereka terpengaruh
oleh bahasa daerah yang telah mereka
kuasai sebelumnya. Pengaruh itu dapat
berkenaan dengan semua aspek
ketatabahasaan. Pengaruh yang sangat jelas ialah
dalam bidang ucapan. Pengaruh dalam
ucapan itu sulit dihindarkan dan menjadi
ciri yang membedakan ucapan penutur
bahasa Indonesia dari daerah satu dengan
daerah yang lain. Sering dengan
mudah kita dapat menentukan daerah asal
seorang penutur berdasarkan ucapan
bahasa Indonesianya.
b. Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,),tanda seru (!), titik
koma (;), titik dua (: ), dll
1. Tanda
titik (.)
Fungsi dan
pemakaian tanda titik:
- Untuk mengakhiri sebuah kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan,
- Diletakan pada akhir sinkatan gelar, jabatan, pangkat dan sapaan,
- Pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum,
Contoh :
- Menggunakan tanda baca dengan benar agar tidak terjadi kesalah pahaman.
- Dr. Adit senang mengobati orang sakit.
- Kutipan menarik itu diambil dari hlm 5 dan 8.
2.
Tanda Koma (,)
Fungsi dan
pemakaian tanda koma antara lain:
- Memisahkan unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilang,
- Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimat,
- Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dakam kalimat, dll.
Contoh :
- Studio tersebut tersedia berupa gitar, drum dan bass.
- Apabila keliru memilih bidang spesialisasi, usaha tidak dapat melaju.
- “Jangan buang sampah sembarangan,” kata Rudi.
3. Tanda
Seru (!)
Fungsi dan
pemakaian tanda seru :
- Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Contoh :
- Jangan letakan benda itu di depan saya !
4. Tanda
Titik Koma (;)
Fungsi dan
pemakaian titik koma adalah:
- Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau setara
- Memisahkan kalimat yang setara didalam satu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh :
- Hari makin sore; kami belum selesai juga.
- Desi sibuk bernyanyi; ibu sibuk bekerja di dapur; adik bermain bola.
5.
Tanda Titik Dua (:)
Tanda
Titik Dua digunakan dalam hal-hal sebagai berikut
- Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
- Pada kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
- Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan
Contoh :
- Fakultas Ekonomi UPN Jogja memiliki tiga jurusan: Akuntansi, Managemen, dan Ilmu Ekonomi.
- Project By: Alland Project
a. Pengertian Kata
Dikehidupan sehari-hari kita selalu
berbicara, disetiap pembicaraan kita pasti kita mengeluarkan kata-kata. nah apasih
arti dari 'KATA' itu?
Pengertian kata atau definisi kata secara sederhana adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti. Namun kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki “cara tersendiri” dalam mendefisikan “kata”. Pertama, pengertian kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam berbahasa. Pengertian kata juga sebanding dengan pengertian ujar atau bicara.
Pengertian kata atau definisi kata secara sederhana adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti. Namun kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki “cara tersendiri” dalam mendefisikan “kata”. Pertama, pengertian kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam berbahasa. Pengertian kata juga sebanding dengan pengertian ujar atau bicara.
Kata adalah sederetan huruf yang
diapit dua spasi dan mempunyai arti. Menurut Bloomfield (dalam Chaer,
1994:163), “kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form).” Contoh
kata, kumbang, hinggap, dan bunga.
Jika ditinjau dari segi bahasa,
pengertian kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan
dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang
bebas. Atau dengan definisi lain, sebuah satuan bahasa yang dapat berdiri
sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya gelas, handuk, gembira) atau
gabungan morfem (misalnya pendatang, pembuat, mahakuasa)
b. Pengertian Pilihan Kata
Diksi adalah pilihan kata.
Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan
satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia
tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan
suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu
ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata
yang tepatlah yang diperlukan. Kata yang tepat dapat membantu seseorang
mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun
tulisan. Selain itu, pemilihan kata itu juga harus sesuai dengan situasi dan
tempat penggunaan kata-kata itu.
Singkatnya
diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata, gaya bahasa, ungkapan-ungkapan
pengarang untuk mengungkapkan sebuah cerita.
Agar menghasilkan cerita yang
menarik, diksi atau pemilihan kata harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
- Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan gagasan
- Pengarang harus memiliki kemampuan dalam membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna, sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembaca.
- Menguasai berbagai macam kosakata dan mempu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi kalimat yang jelas, efektif, dan efisien.
Contoh paragraf :
1. Hari ini Aku pergi ke pantai
bersama dengan teman-temanku. Udara di sana sangat sejuk. Kami bermain bola air
sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.
2. Liburan kali ini Aku dan
teman-temanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari
itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak
heti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah
untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari di
sana. Kami pulang dengan hati senang.
Kedua paragraph diatas memiliki
makna yang sama, tetapi dalam pemilihan kata atau diksi, paragraph kedua lebih
menarik bagi pembaca karena enak dibaca dan tidak membosankan.
c. Makna Kata
Makna adalah denotasi.
Kadang – kadang “Makna” itu selaras dengan
“Arti” dan kadak tidak selaras. Apabila makna sesuatu itu sama dengan arti sesuatu itu, maka makna tersebut disebut Makna Laras
(Explicit Meaning). Apabila
maknanya tidak selaras dengan “Arti”, maka sesuatu itu disebut memiliki
Makna Kandungan (Implicit Meaning) atau Makna Lazim (Necessary Meaning).
Sebagai contoh kata “Sapi”, ia memiliki arti dan makna. “Sapi” sudah memiliki arti
sebelum kata tersebut dimasukan ke dalam kalimat, tapi ia belum memiliki makna, karena makna hanya akan
terbentuk apabila kata itu sudah
dimasukan kedalam kalimat.
Contoh Makna Laras:
Gara memukul sapi.
Kalimat ini memiliki makna yang sama dengan artinya, yaitu sapi.
Pengertian yang menyeluruh
tentang sapi tersebut itulah yang disebut dengan Makna Laras
(Explicit Meaning). Ketika Gara membeli
sapi, tentu yang dibeli adalah keseluruhan tubuh
sapi. Oleh karena itu, makna “Sapi” dalam kalimat tersebut
adalah sama dengan arti “Sapi”, sehingga disebut memiliki Makna Laras.
Contoh Makna Kandungan:
Gara memukul sapi.
Yang dipukul
oleh Gara adalah sebagian
tubuh sapi
itu, oleh
karena itu “Sapi” dalam
kalimat tersebut tidak selaras dengan artinya, melainkan hanya kandungan arti tersebut. Oleh karena itu “Sapi” dalam kalimat tersebut memiliki Makna
Kandungan.
Contoh Makna Kata Lazim:
Gara Menarik sapi.
Kata “Sapi” dalam kalimat tersebut adalah memiliki Makna Lazim, karena ketika Gara menarik sapi, sebenarnya yang dipegang adalah
talinya. Dia menarik tali itu secara tidak langsung menarik tubuh
sapi. Kendatipun yang gara pegang dan
dia tarik secara langsung adalah tali kedali sapi dan bukan
sapinya secara langsung, tetapi sudah lazim dikatakan bahwa hal itu disebut menarik sapi. Itulah mengapa disebut Makna Lazim.
d. Struktur leksikal
Leksikal
adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus. Makna dasar ini melekat
pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga dapat disebut makna asli
sebuah kata yang belum mengalami afiksasi proses penambahan imbuhan ataupun
penggabungan dengan kata yang lain.
3. Kalimat Efektif
a. Pengertian Kalimat
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono, 2007).
Kalimat dapat dibedakan menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa
lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan
kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang
minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan
prediket, satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi
atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan
akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi
perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa
yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,),
titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final
yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!). Adapun ciri- ciri
kalimat yaitu :
a.
Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan
diakhiri dengan kesenyapan. Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan
diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
b.
Sekurang-kurangnya terdiri dari atas subjek dan
prediket.
c.
Predikat transitif disertai objek, prediket
intransitif dapat disertai pelengkap.
d.
Mengandung pikiran yang utuh.
e.
Mengandung urutan logis, setiap kata atau
kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, prediket, objek, dan keterangan)
disusun dalam satuan menurut fungsinya.
f.
Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang
jelas.
g.
Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat
atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling
berhubungan.
b. Hal-hal yang Berhubungan Dengan Kalimat
Bagian- bagian kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam
buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini
disebut peran kata, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel),
dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku terdiri dari sekurang-kurangnya
atas dua unsur, yakni S dan P. Unsur yang lain (O, Pel, dan Ket) dalam suatu
kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir. Adapun
bagian- bagian kalimat secara rinci yaitu:
II.2.1 Subjek
Fungsi
subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau
dijelaskan oleh fungsi kalimat lain, yaitu predikat. Ciri-ciri subjek adalah
sebagai berikut:
a. Jawaban
apa atau siapa,
b. Dapat
didahului oleh kata bahwa,
c. Berupa
kata atau frasa benda (nomina)
d. Dapat
diserta kata ini atau itu,
e. Dapat
disertai pewatas yang,
f. Tidak
didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain,
g. Tidak
dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata
bukan.
Hubungan
subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik
bermain.
S
P
Ibu
memasak.
S
P
II.2.2 Predikat
Predikat
merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek.
Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah
ini.
Adik
bermain.
S P
Adik adalah pokok
kalimat
bermain adalah
yang menjelaskan pokok kalimat.
Ibu
memasak.
S
P
Ibu adalah pokok
kalimat
memasak
adalah yang menjelaskan pokok kalimat. Prediket mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Bagian
kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,
b. Dalam
kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,
c. Prediket
umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,
d. Dalam
kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,
e. Prediket
merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,
f. Prediket
dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok kalimat) atau
bagaimana (pokok kalimat).
II.2.3 Objek
Fungsi
objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif
pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba
transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh
di bawah ini.
Dosen
menerangkan materi.
S
P O
menerangkan adalah
verba transitif.
Ibu
menyuapi adik.
S P O
Menyuapi adalah
verba transitif. Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berupa
nomina atau frasa nominal
b. Berada
langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif)
c. Dapat
diganti enklitik –nya, ku atau –mu
d. Objek
dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan
II.2.4
Pelengkap
Pelengkap
adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek,
dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek
karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi
untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan
pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.
Bu
Minah berdagang sayur di pasar pagi.
S
P pel. ket.
Bu
Minah menjual sayur di pasar pagi.
S
P O ket.
Pelengkap
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kehadirannya
dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks
ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di-
atau ter
b. Pelengkap
merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif
pengisi predikat
c. Pelengkap
merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh
verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi
d. Dalam
kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang
predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di
belakang objek
e. Pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya
f. Satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu
menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif
II.2.5
Keterangan
Keterangan adalah unsur kalimat yang
memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan
merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam
kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
Ibu membeli kue di pasar.
S P
O Ket. Tempat
Ayah menonton TV tadi pagi.
S
P O
Ket. waktu
Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib
dalam kalimat
b. Keterangan
dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat
c. Keterangan
diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa
terikat
Berdasarkan
maknanya keterangan dapat dibedakan atas :
a. Keterangan tempat, yaitu keterangan
yang mengandung makna tempat. Keterangan tempat diawali oleh preposisi di, ke,
dari (di) dalam
b. Keterangan waktu, yaitu keterangan yang
mengandung makna waktu. Keterangan waktu diawali oleh preposisi pada, dalam,
se-, sepanjang, selama, sebelum, sesudah. Selain itu ada keterangan waktu yang
tidak diawali oleh preposisi, misalnya sekarang, besok, kemarin, nanti.
c. Keterangan alat, yaitu keterangan yang
mengandung makna alat. Keterangan alat diawali oleh preposisi dengan dan tanpa.
d. Keterangan cara, yaitu keterangan yang
berdasarkan relasi antarunsurnya, bermakna cara dalam melakukan kegiatan
tertentu. Keterangan cara ditandai oleh preposisi dengan, secara, dengan cara,
dengan jalan, tanpa.
e. Keterangan tujuan, yaitu keterangan
yang dalam hubungan antar unsurnya mengandung makna tujuan. Keterangan tujuan
ditandai oleh preposisi agar, supaya, untuk, bagi, demi.
f. Keterangan penyerta, yaitu keterangan
yang berdasarkan relasi antarunsurnya yang membentuk makna penyerta.
g. Keterangan perbandingan, yaitu
keterangan yang relasi antar unsurnya membentuk makna perbandingan. Keterangan
perbandingan ditandai oleh preposisi seperti, bagaikan, laksana,
h. Keterangan sebab, yaitu keterangan yang
relasi antarunsurnya membentuk makna sebab. Keterangan sebab dtandai oleh
konjungtor sebab dan karena
i. Keterangan akibat, yaitu keterangan
yang relasi antarunsurnya membentuk makna akibat. Keterangan akibat ditandai
oleh konjungtor sehingga dan akibatnya
j. Keterangan syarat, yaitu keterangan
yang relasi antarunsurnya membentuk makna syarat. Keterangan syarat ditandai
oleh konjungtor jika dan apabila
k. Keterangan pengandaian, yaitu
keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna pengandaian. Keterangan
pengandaian ditandai oleh konjungtor andaikata, seandainya dan andaikan
l. Keterangan atributif, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna
penjelasan dari suatu nomina.
#Sumber Referensi